Skip to main content

Menikah, Buat Apa?

Dulu, di awal sebelum menikah, setiap kali ada pertanyaan apa tujuan menikah jawaban saya selalu standar, "Menyempurnakan agama." Jawaban khas orang kebanyakan, entah karena memang mengerti apa makna di balik jawaban itu atau hanya sekedar ikut-ikutan saja. Sama seperti saya, beberapa tahun yang lalu saat masih single dan belum menikah. Ketika sudah menikah, lain lagi jawabannya.

Menikah adalah life time job alias pekerjaan seumur pernikahan. Ada upaya untuk menjaga segala sesuatunya tetap baik. Tidak hanya baik dari sisi suami namun juga baik bagi berdua. Bisa berkomunikasi dengan baik hingga saling mengerti satu sama lain saja bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi aspek-aspek lainnya.

Oleh karenanya, perjalanan pernikahan saya dan Cibi yang sudah menggenapi usia 8 tahun, tepat hari ini, membawa saya berpikir ulang apa tujuan dari pernikahan itu. Kalau jawabannya seperti paragraf awal, ya tak ubahnya seperti halnya kalau ditanya apa tujuannya makan dan dijawab agar kenyang. Tanpa dijadikan tujuan pun, jika makannya banyak otomatis jadi kenyang. Begitu juga pernikahan. Tanpa ditujukan sebagai ibadah pun, jika diniatkan untuk ibadah dan dilakukan dengan benar otomatis jadi ibadah.

Maka dari itu, jika hari ini saya ditanya apa tujuan menikah, maka saya sudah punya jawaban lain yang lebih konkrit (versi saya dan ini sangat subyektif).

1. Teman Berbagi Yang Paling Dekat

Jika boleh dikategorikan sebagaimana orang awam mendefinisikan introvert dan ekstrovert, maka saya adalah pribadi yang introvert. Tidak banyak teman dan mengutamakan kualitas pertemanan daripada kwantitas. Maka dari itu di dunia luar, saya lebih banyak jadi sosok yang pendiam. Kecuali ketika sedang bertugas, entah itu menjadi trainer, pemateri/narasumber, mentor, teman diskusi, dan sejenisnya. 

Saya suka bercerita banyak hal. Mulai dari hal remeh yang ditemui di perjalanan, aktivitas hari ini, proyek yang sedang saya tangani, hingga hal baru yang baru saya pelajari. Namun saya tidak suka bercerita lebih dalam kepada orang lain. Saya lebih suka menyimpannya dalam kotak yang hanya saya dan Tuhan saja yang tahu.

Dengan hadirnya Cibi, otomatis dia menjadi teman yang paling dekat buat saya. Teman yang benar-benar mengerti semua aspek dalam diri saya. Mulai dari hal yang paling positif, hingga sisi terkelam dari sosok Arief Maulana. Kalau bahasa istri saya, teman bergibah paling aman adalah pasangan sendiri.

Namanya teman berbagi, ya semua hal dibagi. Mulai dari hal yang membahagiakan, hingga hal yang menyebalkan. Walau bagaimana pun, buat saya pribadi, berdua masih jauh lebih enak daripada sendirian. Seenak-enaknya berteman dengan orang lain, lebih enak berteman dengan pasangan sendiri yang jelas-jelas lebih mengenal kita luar dalam.

2. Wadah Bertumbuh

Menjalani 8 tahun pernikahan membuat saya dan istri mengalami banyak perubahan. Kami bertumbuh dari waktu ke waktu. Entah itu karena faktor ilmu-ilmu baru yang didapatkan, baik di kelas formal maupun ilmu kehidupan, ataupun karena masalah-masalah yang berhasil diselesaikan berdua. Praktis, pernikahan menjadi sebuah wadah untuk bertumbuh bagi kami berdua. 

Tentunya hal ini bisa terjadi karena kebetulan saya dan istri sama-sama tipikal yang suka belajar dan punya mindset yang open mind. Tidak malu mengakui jika memang salah dan tidak juga sungkan berbangga hati bila memang benar. Bahkan, tidak segan-segan menertawakan kebodohan yang dilakukan oleh pasangan. Kalau saya melakukan hal bodoh, ya dia tertawa, pun sebaliknya. Ujung-ujungnya, tertawa berdua.

Akan lain ceritanya, ketika pernikahan hanya menjadi status sosial saja. Dari lajang menjadi menikah, dan tidak disertai dengan kemauan untuk bertumbuh. Jika hanya itu yang dikejar, rasa-rasanya kok mending ngga usah menikah sekalian, daripada nambah-nambahin beban hidup. Karena menikah dan menjaga hubungan pernikahan tetap baik adalah sebuah pekerjaan seumur pernikahan. Tinggal kitanya, apakah bisa menikmati pekerjaan itu atau malah tersiksa dengan itu.

3. Mencapai Goal Yang Lebih Besar

Saya punya goal. Begitu juga Cibi, punya goal. Dan ketika disatukan, kami bisa mencapai goal yang lebih besar. Itulah kenapa sesi berbagi visi misi pernikahan ke depan sering banget kami diskusikan. Apa maunya saya, apa maunya Cibi, dan bagaimana strategi untuk mencapai maunya kami berdua dengan skala yang lebih besar, juga lebih efektif dan efisien kerjanya. 

Support yang diberikan pun jelas berbeda antara support dari orang lain dan support dari pasangan sendiri. Toh semua yang dilakukan ujung-ujungnya kembali untuk kebaikan berdua. Selain itu bagi saya pribadi, ibarat batere hape, chargernya adalah Cibi. Hadirnya dalam kehidupan saya memberikan energi yang dibutuhkan untuk terus bergerak mencapai goal demi goal dalam hidup.

Itu tiga jawaban dari saya hari ini, jika ada yang menyakan tentang apa tujuan menikah. Jelas sangat subyektif, versi Arief Maulana bingit. Tiap orang pasti punya tujuannya masing-masing dan tidak harus sama.

Nah, Anda sendiri, baik yang sudah ataupun belum menikah, apa tujuan Anda menikah?

Your #1 Big Fan, 

Arief Maulana
Co-Founder Republik Ungu
Registered LOGOS Facilitator
Licensed Trainer of Covert Selling

Comments

Popular posts from this blog

Membangun Tim Dengan Performa Kerja Tinggi

 Jika diingat-ingat, rasanya lumayan sering saya mendapatkan curhatan tentang performa tim penjualan yang kurang yahud alias memble. Padahal, dari sisi jumlah tim mungkin bisa dibilang banyak yang direkrut. Namun, performa kerjanya kaya kurang greget, yang berujung pada hasil yang juga tidak optimal. Bicara tentang tim memang gampang-gampang susah. Gampang ngerekrutnya, susah membinanya, apalagi mencetaknya menjadi sosok yang performa kerjanya tinggi, baik dari sisi jumlah closing yang dihasilkan, pelayanan prima, hingga kapasitas diri untuk menjadi team leader berikutnya. Persoalan ini membawa saya untuk mencari jawabannya ke mana-mana. Mulai dari diskusi ke beberapa Team Leader, hingga mencari beberapa referensi bertema leadership & team work, baik dalam bentuk buku maupun workshop. Sehingga sampailah pada beberapa poin yang akan saya tuliskan di bawah ini. Langkah #1 : Miliki Peta Kompetensi Setiap profesi atau pun bisnis, pasti punya kompetensi atau keahlian yang dibutuhkan unt

Mulai Dulu Aja!

Saya mengenal slogan #MulaiDuluAja dari salah satu marketplace ijo yang sudah familiar di telinga para netijen +62, bahkan bisa jadi toko online palugada yang paling sering dikunjungi untuk belanja. Slogan ini saya dengar ketika masih sering-seringnya nonton di bioskop, waktu Covid-19 belum menyerang. Iklan marketplace ijo ini sering banget muncul sebelum film dimulai. Saking seringnya, akhirnya nancep juga slogan #MulaiDuluAja itu. Hal yang saya sukai dari slogan ini sebenarnya justru bukan ke arah bisnisnya, apalagi mulai berbisnis di marketplace ijo itu. Slogan ini menginspirasi saya untuk mengaplikasikannya hampir di semua lini kehidupan, khususnya saat rasa malas melanda , ngga mood, ataupun pikiran mulai mencari pembenaran untuk menunda. Saya yakin hampir semua orang pasti pernah berada pada posisi atau kondisi malas melakukan segala sesuatunya. Entah itu alasannya ngga mood, capek, ngga punya waktu, endebre-endebre sejuta alasan lainnya. Akhirnya pembenaran demi pembenaran pun d