Skip to main content

Membangun Tim Dengan Performa Kerja Tinggi

 Jika diingat-ingat, rasanya lumayan sering saya mendapatkan curhatan tentang performa tim penjualan yang kurang yahud alias memble. Padahal, dari sisi jumlah tim mungkin bisa dibilang banyak yang direkrut. Namun, performa kerjanya kaya kurang greget, yang berujung pada hasil yang juga tidak optimal.

Bicara tentang tim memang gampang-gampang susah. Gampang ngerekrutnya, susah membinanya, apalagi mencetaknya menjadi sosok yang performa kerjanya tinggi, baik dari sisi jumlah closing yang dihasilkan, pelayanan prima, hingga kapasitas diri untuk menjadi team leader berikutnya.

Persoalan ini membawa saya untuk mencari jawabannya ke mana-mana. Mulai dari diskusi ke beberapa Team Leader, hingga mencari beberapa referensi bertema leadership & team work, baik dalam bentuk buku maupun workshop. Sehingga sampailah pada beberapa poin yang akan saya tuliskan di bawah ini.

Langkah #1 : Miliki Peta Kompetensi

Setiap profesi atau pun bisnis, pasti punya kompetensi atau keahlian yang dibutuhkan untuk membuatnya berjalan baik. Tanpa kompetensi yang cukup, performa kerjanya akan menjadi biasa saja, bahkan cenderung bisa berujung pada kekacauan. Oleh karenanya, sebagai langkah awal, penting untuk mengetahui kompetensi apa saja yang dibutuhkan agar performa tim bisa tinggi.

Pengalaman saya membersamai tim di Republik Ungu, tanpa peta kompetensi, tim jadi berjalan tanpa arah. Tidak tahu apa yang mesti dilatih dan dipertajam. Maka langkah awal yang saya lakukan adalah memetakan kompetensi apa saja yang perlu dimiliki oleh setiap anggota tim.

Langkah #2 : Petakan Kompetensi Setiap Anggota Tim 

Jika peta kompetensinya sudah ada, maka langkah selanjutnya adalah memetakan setiap anggota tim kita, sudah memiliki kompetensi apa saja. Setiap anggota tim pasti akan berbeda-beda hasil analisanya. Ada yang mungkin sudah lengkap dan jago semuanya, dan ada juga yang mungkin belum punya kompetensi apa-apa. 

Kalau kata Mentor saya, Team Leader yang baik harusnya tau posisi kekuatan dan kelemahan timnya. Sehingga bisa fokus pada kekuatan dan meminimalir bahkan menghilangkan kelemahannya, khususnya yang berkenaan dengan kompetensinya.

Langkah #3 : Latih, Latih dan Latih

Jika sudah tahu peta kompetensi setiap anggota tim, langkah selanjutnya ya dilatih sesuai kompetensi yang dibutuhkan. Pelatihnya bisa dari dalam intern (dimentori dan dilatih sendiri) atau mendatangkan pihak ketiga dari luar. Namanya dilatih, ya bukan cuma dikasih teorinya doang. Tapi diajari caranya, dipraktekkan, dikawal semasa praktek dan dievaluasi hasil prakteknya. 

Pernah ada kejadian, dimana salah satu Team Leader curhat kepada saya. Cita-citanya ingin punya tim yang performa kerjanya tinggi dan optimal dalam mencapai goal. Namun ketika saya tanya balik sejauh mana sudah melatih mereka, jawabannya males ngurusin orang. Biar aja mereka belajar sendiri dan latihan sendiri. Ya sudah, jika begini cara mainnya, tinggal tunggu saja timnya bubar. Dan betul prediksi saya, beberapa bulan kemudian timnya ngga jalan dan omset timnya semakin jatuh.

Langkah #4 : Evaluasi

Sudah dilatih? Jangan lupa dievaluasi performanya secara berkala. Parameter evaluasinya disesuaikan dengan peran dan fungsi anggota tim ini. Ini juga harus jelas, sama jelasnya dengan peta kompetensi di atas. 

Dengan evaluasi, kita jadi tahu letak kekurangannya di mana. Apakah di sistem yang kita bangun, di peta kompetensi yang kita susun, atau performa anggota tim itu sendiri. Sehingga bisa diperbaiki dari waktu ke waktu.

Langkah #5 : Rekrut Tim Baru

"Mas, tim sudah punya kompetensi yang dibutuhkan. Performanya juga sangat baik. Namun kenaikan omset kok mentok di titik tertentu ya? Tidak naik lagi."

Pernah mengalami hal seperti itu? Jika itu yang terjadi, maka suka tidak suka yang perlu dilakukan adalah menambah jumlah sumber daya manusianya. Rekrut tim baru lagi, latih lagi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan.

Rekrut tim tidak hanya untuk menaikkan omset saja, namun bisa juga untuk menggantikan tim yang performanya kurang baik, sekalipun sudah diberikan pelatihan kompetensi yang dibutuhkan. Ini bisa terjadi karena kesalahan rekrut di awal. Maka hal yang wajar jika di tengah jalan kita melakukan pergantian tim, dari tim yang performanya kurang baik ke tim yang punya potensi performa tinggi.

Saya kira itu saya sharing kali ini. Jika ada ada yang ingin didiskusikan, jangan sungkan untuk menghubungi WA 0823-8803-1113. Semoga bermanfaat.

Your #1 Big Fan, 

Arief Maulana
Co-Founder Republik Ungu
Registered LOGOS Facilitator
Licensed Trainer of Covert Selling

Comments

  1. emperor casino
    Emperor Casino is the largest online casino in the world with an official license from 제왕카지노 Malta Gaming deccasino Authority. It has a large number of 카지노사이트 slots, video poker, blackjack  Rating: 4.8 · ‎2,926 votes

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menikah, Buat Apa?

Dulu, di awal sebelum menikah, setiap kali ada pertanyaan apa tujuan menikah jawaban saya selalu standar, "Menyempurnakan agama." Jawaban khas orang kebanyakan, entah karena memang mengerti apa makna di balik jawaban itu atau hanya sekedar ikut-ikutan saja. Sama seperti saya, beberapa tahun yang lalu saat masih single dan belum menikah. Ketika sudah menikah, lain lagi jawabannya. Menikah adalah life time job alias pekerjaan seumur pernikahan. Ada upaya untuk menjaga segala sesuatunya tetap baik. Tidak hanya baik dari sisi suami namun juga baik bagi berdua. Bisa berkomunikasi dengan baik hingga saling mengerti satu sama lain saja bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi aspek-aspek lainnya. Oleh karenanya, perjalanan pernikahan saya dan Cibi yang sudah menggenapi usia 8 tahun, tepat hari ini, membawa saya berpikir ulang apa tujuan dari pernikahan itu. Kalau jawabannya seperti paragraf awal, ya tak ubahnya seperti halnya kalau ditanya apa tujuannya makan dan dijawab agar kenyang.

Mulai Dulu Aja!

Saya mengenal slogan #MulaiDuluAja dari salah satu marketplace ijo yang sudah familiar di telinga para netijen +62, bahkan bisa jadi toko online palugada yang paling sering dikunjungi untuk belanja. Slogan ini saya dengar ketika masih sering-seringnya nonton di bioskop, waktu Covid-19 belum menyerang. Iklan marketplace ijo ini sering banget muncul sebelum film dimulai. Saking seringnya, akhirnya nancep juga slogan #MulaiDuluAja itu. Hal yang saya sukai dari slogan ini sebenarnya justru bukan ke arah bisnisnya, apalagi mulai berbisnis di marketplace ijo itu. Slogan ini menginspirasi saya untuk mengaplikasikannya hampir di semua lini kehidupan, khususnya saat rasa malas melanda , ngga mood, ataupun pikiran mulai mencari pembenaran untuk menunda. Saya yakin hampir semua orang pasti pernah berada pada posisi atau kondisi malas melakukan segala sesuatunya. Entah itu alasannya ngga mood, capek, ngga punya waktu, endebre-endebre sejuta alasan lainnya. Akhirnya pembenaran demi pembenaran pun d