Skip to main content

Bersahabat Dengan Target

Beberapa hari yang lalu saya melakukan survey kecil-kecilan kepada Komunitas Alumni Kelas Covert Selling, baik yang di level basic (dasar) ataupun advance (lanjutan), tentang target. Kebetulan mayoritas alumni adalah para Reseller, Marketer, Agen, Distributor atau apapun sebutannya. 

Semua berawal dari seringnya saya mendapatkan pertanyaan dari prospek yang hendak bergabung di bisnis Milagros yang saya sedang saya tekuni beberapa tahun terakhir. Pertanyaan mereka adalah, "Mas, di Milagros ini ada target atau tutup poinnya ngga?"

Maka dari itu, saya jadi penasaran apakah di bisnis konvensional lainnya juga mengalami hal yang sama. Ternyata sama saja. Para Produsen ataupun Distributor / Agen yang melakukan rekrutmen Reseller / Marketer (level terbawah tim penjualannya), juga kerap mendapatkan pertanyaan yang sama. Ini lantas membuat saya berpikir, ada apa dengan target? Kenapa kok begitu ditakuti dan menjadi momok mengerikan ketika memulai berbisnis di level paling bawah? 

Di sisi lain, rasanya saya tidak pernah menemukan perusahaan atau bisnis besar yang tidak bekerja dengan target. Justru target inilah yang kemudian menjadi tolok ukur seberapa baik kinerja perusahaan. Jika target tercapai apalagi sampai melampaui target yang ditetapkan, berarti kinerjanya bagus. Jika target tidak tercapai, berarti ada yang salah dalam prosesnya, sehingga perlu dievaluasi ulang untuk mencapai target ke depannya.

Maka bagi yang mempertanyakan apakah ada target atau tidak, saya jadi kepikiran apakah mereka benar-benar bersungguh-sungguh mau memulai bisnisnya? Atau cuma sekedar main-main doang dan tidak punya tujuan akhir yang ingin dicapai? Asli ini bikin berpikir keras.

Mengubah Target Menjadi Goal

Salah satu cara saya membuat diri ini nyaman dengan kata "TARGET" adalah dengan mengubahnya menjadi kata "GOAL". Kata "TARGET" sudah identik dengan perasaan dikejar-kejar untuk memenuhi sebuah target yang telah ditetapkan sebelumnya, dan umumnya ditetapkan oleh pihak lain di luar diri kita. 

Sementara kata "GOAL" menjadi lebih nyaman buat saya, karena perasaan yang muncul adalah hal yang mesti dicapai demi kepentingan saya sendiri. Saya membuat sendiri goal saya dan saya bergerak untuk mencapai itu, demi diri saya sendiri. Ada semangat untuk mencapainya. Ada tindakan yang berfokus pada solusi ketika menemui hambatan di perjalanannya.

Bicara tentang goal pun sebenarnya bukan hanya di aspek bisnis dan karir saja. Harusnya di aspek kehidupan yang lain seperti: keuangan, keluarga, pertumbuhan pribadi, hobi & rekreasi, kesehatan, sosial, dan spiritual pun, harusnya ada goal juga. Sehingga kita bisa terus bertumbuh dan tetap seimbang dalam menjalani kehidupan.

Goal Itu Tujuan Dari Sebuah Perjalanan

Goal dalam sudut pandang saya adalah tujuan dari sebuah perjalanan. Bayangkan kita akan melakukan sebuah perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Tentu yang harus jelas pertama kali adalah tujuannya dulu. Setelah tujuannya jelas, baru kemudian kita bicara bagaimana proses perjalanannya menuju lokasi tujuannya, termasuk juga pilihan transportasinya.

Artinya, ketika kita akan melakukan sesuatu, pastikan dulu tujuan atau goalnya jelas. Ingat, kita akan mencurahkan pikiran, tenaga, waktu, bahkan mungkin uang, untuk melakukan sebuah aktivitas. Maka ketika itu dilakukan tanpa ada kejelasan tujuan atau goal, sayang banget karena yang ada hanyalah kesia-siaan belaka. 

Kenapa banyak orang tidak berubah kualitas hidupnya, bisa jadi karena mereka tidak punya gambaran dan tidak punya tujuan / goal yang jelas, yang bisa membuat kualitas hidupnya meningkat. Menjalani hidup apa adanya, seperti air mengalir. Meskipun air selalu mengalir ke bawah dan bisa jadi berakhir di comberan.

Menyikapi Tim Yang Tidak Mau Bekerja Dengan Target

Kembali ke topik di awal, yaitu bagaimana bila bertemu dengan tim yang tidak mau bekerja dengan target. Sederhana saja, yaitu tidak dijadikan prioritas utama. Mengingat waktu yang ada dalam satu hari hanya 24 jam, maka pada waktu yang digunakan untuk mengerjakan bisnis ada baiknya difokuskan kepada mereka yang memang punya target / goal / tujuannya yang jelas. Karena mereka yang punya target / goal / tujuan yang jelas, biasanya punya energi yang cukup untuk bergerak dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan. Sehingga bisa menunjang percepatan pertumbuhan bisnis kita.

Kebetulan jika di Republik Ungu, target atau goal ini diserahkan kembali kepada masing-masing tim. Standar minimal target yang ada berdasarkan hasil riset tentu selalu disampaikan di awal, untuk memberikan gambaran perjalanan seperti apa yang mesti dilalui, untuk mencapai posisi penghasilan tertentu. Selanjutnya tim menentukan goal / target kerja dan hasilnya seperti apa, bebas-bebas saja. Para Leader hanya membantu memfasilitasi sistem dan alat bantunya.

Adapun bagi yang tidak punya target / goal bagaimana? Ya tetap didampingi. Hanya saja tidak menjadi prioritas utama. Jika mereka membutuhkan bantuan, ya tetap difasilitasi dengan sistem dan alat bantu yang ada. Ibaratnya kalau tempat fitness (gym), barbel, alat bantu angkat beban, semua sudah tersedia. Tinggal masing-masing orang yang berangkat ke tempat fitness mau latihan seperti apa dan mau angkat beban seberat apa.

Sudah Punya Goal Pribadi Yang Jelas Belum?

Ada yang jauh lebih penting daripada mengharapkan kehadiran tim yang punya goal jelas dan mau bekerja dengan target. Yaitu, kitanya sendiri sudah punya goal yang jelas belum dalam menjalani hidup? Kalau belum, maka jangan heran jika yang banyak datang adalah yang ngga punya goal dan ngga suka bekerja dengan target. Lha yang ditarik begitu. Ingat hukum daya tarik.

Oleh karenanya, sebelum bicara soal tim atau mengharapkan tim kita punya goal yang jelas dan siap bekerja dengan target, sudahkah kita sendiri punhya goal yang jelas dan siap bekerja dengan target? 

Jika sudah, langkah selanjutnya adalah sudahkah kita membuat rencana kerja yang mendekatkan kita pada tercapainya goal tersebut? Dan seberapa jauh kita konsisten menjalankan rencana kerja tersebut? Jika jawabannya banyak tidaknya, ya inilah alasan kenapa resolusi goal dari tahun ke tahun hanya jadi wacana dan tidak pernah terwujud.

Semoga bermanfaat.

Your #1 Big Fan, 

Arief Maulana
Co-Founder Republik Ungu
Registered LOGOS Facilitator
Licensed Trainer of Covert Selling

___
PS. Bagi Anda yang punya kesulitan dalam menyusun goal  dan juga action plan (rencana kerja) yang jelas dan punya peluang besar untuk tercapai, Saya dengan senang hati akan membantu memfasilitasi Anda untuk Coaching bersama LOGOS dalam menyusun GOAL dan juga ACTION PLAN-nya. Silahkan japri saya ke via WA ke 0823-8803-1113 untuk informasi lengkapnya.



Comments

Popular posts from this blog

Membangun Tim Dengan Performa Kerja Tinggi

 Jika diingat-ingat, rasanya lumayan sering saya mendapatkan curhatan tentang performa tim penjualan yang kurang yahud alias memble. Padahal, dari sisi jumlah tim mungkin bisa dibilang banyak yang direkrut. Namun, performa kerjanya kaya kurang greget, yang berujung pada hasil yang juga tidak optimal. Bicara tentang tim memang gampang-gampang susah. Gampang ngerekrutnya, susah membinanya, apalagi mencetaknya menjadi sosok yang performa kerjanya tinggi, baik dari sisi jumlah closing yang dihasilkan, pelayanan prima, hingga kapasitas diri untuk menjadi team leader berikutnya. Persoalan ini membawa saya untuk mencari jawabannya ke mana-mana. Mulai dari diskusi ke beberapa Team Leader, hingga mencari beberapa referensi bertema leadership & team work, baik dalam bentuk buku maupun workshop. Sehingga sampailah pada beberapa poin yang akan saya tuliskan di bawah ini. Langkah #1 : Miliki Peta Kompetensi Setiap profesi atau pun bisnis, pasti punya kompetensi atau keahlian yang dibutuhkan unt

Menikah, Buat Apa?

Dulu, di awal sebelum menikah, setiap kali ada pertanyaan apa tujuan menikah jawaban saya selalu standar, "Menyempurnakan agama." Jawaban khas orang kebanyakan, entah karena memang mengerti apa makna di balik jawaban itu atau hanya sekedar ikut-ikutan saja. Sama seperti saya, beberapa tahun yang lalu saat masih single dan belum menikah. Ketika sudah menikah, lain lagi jawabannya. Menikah adalah life time job alias pekerjaan seumur pernikahan. Ada upaya untuk menjaga segala sesuatunya tetap baik. Tidak hanya baik dari sisi suami namun juga baik bagi berdua. Bisa berkomunikasi dengan baik hingga saling mengerti satu sama lain saja bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi aspek-aspek lainnya. Oleh karenanya, perjalanan pernikahan saya dan Cibi yang sudah menggenapi usia 8 tahun, tepat hari ini, membawa saya berpikir ulang apa tujuan dari pernikahan itu. Kalau jawabannya seperti paragraf awal, ya tak ubahnya seperti halnya kalau ditanya apa tujuannya makan dan dijawab agar kenyang.

5 Tips Start Strong Di Tahun 2021

Jelang akhir tahun 2020, salah satu mentor sekaligus guru saya di LOGOS Global Academy, Coach Tjia Irawan, memposting sebuah quote yang cukup menggelitik di salah satu media sosialnya. Isi quotenya kurang lebih seperti di bawah ini. Bagaimana mungkin FINISH STRONG jika you STARTED WRONG & ACTION-nya ZONK? Sangat menggelitik bukan? Sungguh-sungguh sangat nampar. Dan rasanya ini salah satu sebab kenapa akhirnya resolusi akhir tahun hanya menjadi wacana dari tahun ke tahun. Keberhasilan dalam pencapaian pada beberapa aspek tahun 2020 tidak membuat saya berhenti mengevaluasi untuk menetapkan goal selanjutnya. Bedanya, jika tahun-tahun sebelumnya semua mengalir layaknya tanpa saya pahami konsep detailnya, maka tidak demikian di tahun ini. Mengenal LOGOS sangat membantu saya dalam memetakan dan mendesain goal yang akan dicapai di tahun 2021. Saya tidak akan menjabarkan apa dan bagaimananya di sini, jika Anda membutuhkan konsultasi profesional dengan LOGOS untuk mendesain GOAL dan ACTION